Jumat, 29 Maret 2013

Asyiknya Menjelajahi Pulo Samosir

Pulo Samosir na uli
Samosir yang merupakan bagian wilayah Kabupaten Samosir merupakan pesona keindahan alam Sumatera Utara. Sepanjang pulau yang terletak ditengah-tengah Danau Toba ini terdapat berbagai objek wisata yang sangat beragam. Mulai dari objek wisata sejarah,wisata keindahan alam,wisata religi dan wisata budaya. Tiap-tiap kecamatan yang ada di Pulau memiliki keindahan dan ciri tersendiri. Dan sebagian besar jalan-jalan disepanjang Pulau Samosir ini boleh dikatakan baik kecuali di sebagian tempat yang saat ini sedang dalam pengerjaan. Beberapa objek wisata yang dapat dikunjungi dipulau ini ( dengan rute perjalanan dari pelabuhan Tomok menuju kearah Ibukota Kab.Samosir yakni Pangururan ), diantaranya ;
Pelabuhan Ajibata
1. Tempatbelanja Souvenir di Tomok(lebih kurang 200 m dari pelabuhan Tomok)
2. Objek sejarah dari Raja Sidabutar dan Makamnya yang terbuat dari Batu yang dipahat (tanpa sambungan) juga di Tomok.
3. Tempat melihat si gale-gale (patung kayu) yang bisa menari (manortor) dan pengunjung jugadapat diajak serta menari (manortor).
4. Kursi batu tempat raja bersidang dan mengadili setiap pelanggar aturan di Sialagan (5 km dari Tomok
5. Huta bolon (kampung besar) di Simanindo ( 10 km dari Ambarita) disana terdapat komplek bangunan rumah adat batak dan museum yang menyimpan barang-barang pusaka Batak,terdapat juga si gale-gale dan
Hutabolon
pertunjukan upacara adat batak sekaligus manortor.
6. Dari Huta Bolon kita bisa menyempatkan diri kekampung sentra pertenunan ulos (perlengkapan pakaian adat Batak,jaraknya lebih kurang 3 km dari Huta Bolon.
7. Kemudian ada Pantai Pasir putih (lebih kurang 5 km dari Huta Bolon, tempat berjemur dan mandi ditepian Danau Toba,tempat yang bersih,tenang,pantainya landai,sangat cocok untuk menikmati dinginnya air danau toba.
8. Selanjutnya dari Pantai Pasir Putih kita bisa melanjutkan perjalanan wisata kita ke Pangururan (Ibukota Kab.Samosir). Disini terdapat beberapa objek wisata diantaranya : Aek Rangat (pemandian air panas yang masih alami dan bermanfaat bagi kesehatatan tubuh dan kulit),Open Stage (tempat pagelaran seni budaya
Batak,terletak ditengah kota Pangururan
9. Jika ingin melanjutkan lagi kearah Timur kita bisa menuju Tele,tempat yang tinggi dimana disana terdapat menara tempat memandang panorama Danau Toba secara keseluruhan dari ketinggian (Menara Pandang Panorama Tele). Kembali dari Tele menuju Pangururan kita bisa melanjutkan perjalanan menuju Palipi,disana kita bisa menyaksikan keindahan danau Toba dengan view yang sangat indah,belum terjamah,memiliki sumber air panas alami.

Aek rangat Pangururan
10. Perjalanan bisa diteruskan menuju Kecamatan Nainggolan, disini kita bisa menemukan objek wisata sejarah yakni Batu Guru, sebuah batu besar yang memiliki tiga pondasi(oleh masyarakat disana dikaitkan dengan Falsafah Dalihan Na Tolu), sebuah batu besar yang seolah-olah mengapung ditengah air Danau Toba, objek wisata tentang Pohon Beringin yang sangat besar di desa Sukkean serta pantai pasir putihtempat pemandian.
11. Perjalanan masih bisa dilanjutkan ke Kec.Onan Runggu, disana ada Pantai Lagundi dengan pondok remajanya,pantai yang panjang dan berpasir putih.
Menara pandang Tele
12.Dan masih banyak lagi objek-objek wisata lainnya yang tak kalah menarik seperti Danau diatas Pulau Samosir di Kecamatan Ronggur ni Huta,dan berbagai kampung-kampung tua masyarakat Batak yang masih terlihat keasliannya. Bahwa anda tak usah khawatir mengenai tempat penginapan.

Disini terdapat banyak tempat penginapan dalam berbagai kelas dan jenis mulai dari penginapan biasa (motel), Hotel,Guesthouse,Villa,Cottage yang umumnya memasang tarif yang terjangkau (wajar). Rata-rata tarif menginap antara Rp.75.000 hingga Rp.350.000/malam.

Untuk mencapai Pulau Samosir tidak sulit, dari Medan sekitar 4 jam perjalanan menuju kota turis Parapat dan dari Parapat anda bisa menyeberang ke Pulau Samosir dengan membawa kendaraan peribadi (baik Mobil maupun Motor) dengan tarif Rp.Rp 95.000 dan Rp.25.000. Ada satu hal yang perlu diperhatikan bahwa di Pulau Samosir anda perlu cermat untuk memilih tempat dan makanan karena bagi anda yang Muslim tentu akan mencari tempat dan makanan yang halal. Agak jarang terdapat disini (walaupun ada beberapa warung Muslim) ,dan wajar karena penduduk Pulau Samosir mayoritas Non Muslim.

Tetapi tak perlu terlalu khawatir asal cermat mengamatinya.Penginapan yang umumnya dipilih oleh wisatawan terpusat di Ring Road Tuk-Tuk Siadong lebih kurang 5 km dari Tomok Anda harus mencoba perjalanan mengelilingi Pulau Samosir bersama keluarga anda, fenomena alam disini tak bisa dibandingkan dengan tempat lainnya termasuk Bali, sebab Pulau Samosir memiliki fenomena alam yang indah tersendiri. Sepanjang jalan di Pulau Samosir aman bagi Anda yang hobbi bersepeda dan anda tak perlu membawa sepeda sendiri sebab disini banyak tersedia tempat penyewaan sepeda dan motor Samosir memang tempat wisata yang indah,belum terkontaminasi oleh perubahan gaya hidup. Masyarakatnya sangat sadar wisata terlihat dari lengkapnya rambu-rambu dan petunjuk jalan menuju ke objek wisata mana saja.
Anda tidak akan kecewa jika berkunjung ke Pula Samosir na Uli ( Samosir yang Indah).

Jika anda sering berwisata kepulau Bali barangkali perlu melakukan perjalanan wisata ke pulau Samosir. Disini tent saja anda sekeluarga akan menemukan suatu pengalaman baru dalam menikmati keindahan alam Nusantara. Apa yang sudah ada di Pulau Samosir cukup hanya disempurnakan sedikit lagi.Itupun diharapkan jangan terlalu banyak mengusik keaslian dan keasrian alam,situs,dan budaya yang ada.


Pemerintah Kabupaten Samosir harus bijak dalam menata objek pariwisata didaerahnya,jangan sampai berubah menjadi tempat-tempat tak berbudaya yang sama sekali bertentangan dengan adat budaya asli orang Indonesia. Tentu saja kita semua tak ingin Samosir berubah menjadi Bali yang semakin hari semakin asing dikehidupan kita. Kita juga percaya dengan keasrian dan keasliannya Samosir tetap akan menjadi tempat kunjungan wisatawan manca negara bahkan akan muncul sebagai tempat kunjungan wisata keluarga-keluarga warga dunia.

Rabu, 28 November 2012

JANGAN LUPAKAN KAMI SAUDARAMU

Oleh : Toto Pardamean Sinaga. Ketika menapaki Samosir,ada rasa keterasingan tatkala tak setitikpun kampung nenek moyangku ini memperlihatkan simbol-simbol Islam sebagai agama yang kuanut. Tak ada yang perlu disesali karena akupun menghormati kepercayaan saudara-saudaraku yang kebetulan memang tinggal berdiam di Pulo Samosir ini.
Sepanjang jalan dari pelabuhan Tomok hingga Pangururan yang kutempuh dalam mencoba menapaki jejak sejarah ini,simbol-simbol Agama Kristen yang terpandang sehingga aku berpikir mengapa tak ada saudaraku yang Muslim disini. Mengapa tidak ada keinginan mereka untuk memberi tanda bahwa sebenarnya Marga Sinaga itu tidak identik dengan Kristen sebab tidak sedikit kami beragama Islam. Pertanyaan berikutnya mengapa juga Tanah Batak ini seperti diklaim sebagai wilayah teritorial agama Kristen ? Saya tidak sedikitpun mempersoalkan agama Kristen, sebab hal itu adalah pilihan dan bukan sesuatu yang dipaksakan.Tetapi seringkali tidak disadari bahwa penonjolan agama berlebihan bisa berpengaruh buruk terhadap keharmonisan yang sudah terbangun oleh sistem kekerabatan yang ada di tengah-tengah bangsa Batak jauh sebelum kedatangan agama-agama tersebut termasuk Kristen maupun Islam. Bagi kami turunan Marga Sinaga yang beragama Islam terkadang merasa diabaikan tatkala dalam berbagai kegiatan adat dan budaya menjadi terhalang untuk mengikutinya karena didalamnya terselip beberapa kegiatan yang tak dapat kami ikuti.Misalnya;pemotongan hewan babi sebagai santapan yang bagi kami diharamkan agama yang kami anut. Berkaitan dengan hal ini tentu saja mengundang tanda tanya besar, sebab kami tidak melihat adanya kewajiban dalam budaya Batak untuk menjadikan hewan babi sebagai binatang utama sebagai sajian dalam berbagai acara. Hal ini terlihat pada desain rumah adat Batak,diatas atap tepat pada ujung bubungannya sebelah depan terpampang kepala kerbau (sebagai binatang/hewan yang dihormati) dijadikan sebagai simbol,bukan kepala babi. Demikian juga dalam acara-acara adat,misalnya hukuman denda atas tindakan melanggar adat,kerbaulah yang dijadikan sebagai alat tukar/nominal/harga yang harus dibayar (denda). Kesan yang kami sampaikan ini tidak bermaksud untuk mempersoalkan perbedaan kepercayaan, tetapi lebih fokus pada upaya mengembalikan keeratan,kekerabatan,persaudaraan diantara para turunan Batak (umumnya) dan keluarga besar marga Sinaga (khususnya). Kita membayangkan betapa indahnya ikatan persaudaraan turunan Sinaga yang tidak terganggu dengan perbedaan kepercayaan sehingga turunan Sinaga ini bisa menjadi pelopor yang bisa menjaga keharmonisan dan kerukunan antara sesamanya dan tidak menjadikan agama sebagai sekatan-sekatan bahkan agama masing-masing bisa membuat keluarga besar ini menjadi saling menjaga dan menghormati sesamanya,memperindah hubungan persaudaraan. Setibanya di Tugu Toga Sinaga di desa Urat ada rasa optimisme bahwa marga Sinaga ini bisa menjadi pelopor,contoh bagaimana menghadirkan kultur Batak yang tidak bersinggungan dengan sensitifitas agama. Pada Tugu Toga Sinaga itu tak satupun simbol-simbol utama agama yang ditonjolkan, bahkan yang lebih mengagumkan dipucuk tugunya berdiri sebuah Timbangan yang mensiratkan arti keadilan,budi baik,kebijaksanaan,keseimbangan,dan kearifan berpikir. Tugu itu telah mengusik hati kami sehingga mampu melupakan kegundahan yang diperoleh disepanjang jalanan Tomok hingga desa Urat. Semoga seluruh keluarga Marga Sinaga Muslim mau berkunjung kekampung leluhurnya ini untuk turut mewarnai kekayaan budaya dan sosial keluarga besar marga Sinaga.